Buku Curhat-nya Wartawan Pikiran Rakyat

 

RABU (14/10/2020) saya kedatangan tamu Tri Joko Heriadi, wartawan Pikiran Rakyat. Joko mengirim buku “Di Sini Cerita Kami Titipkan: Kesaksian Jurnalis Pikiran Rakyat dari Tengah Disrupsi.”  Buku ini adalah kumpulan tulisan 22 wartawan muda Pikiran Rakyat. Tentu saja saya senang dikunjungi junior saya. Saya pernah menjadi atasan mereka sampai menerima surat pensiun 1 Januari 2020. Joko adalah inisiator penulisan buku ini.

Halaman demi halaman  saya baca habis semalam. Sebagai orang yang pernah lama di Pikiran Rakyat, saya memahami apa yang menjadi gundah gulana para wartawan muda di buku ini. Redaksi cetak ingin agar PR: 1) melakukan transformasi digital yang konvergen (cetak, radio, online), 2 mempertahankan keunikan dan lokalitas kejawabaratan. 3. mempertahankan tradisi merekatkan masyarakat (community engagement) seperti yang pernah dilakukan para pendiri Pikiran Rakyat.

Di lain pihak  anak-anak muda di redaksi koran melihat perusahaan mengambil kebijakan divergen. Perdana Alamsyah yang sekarang menjabat Direktur Utama Pikiran Rakyat membuat perusahaan baru PT Kolaborasi Mediapreneur Nusantara (KMN). Sedangkan koran Pikiran Rakyat di bawah PT Pikiran Rakyat Bandung. Perdana juga membentuk PT baru untuk PR TV. Saya tidak tahu apakah kedua PT itu anak perusahaan (subsidiary) PT Pikiran Rakyat Bandung atau perusahaan yang didirikan  oleh individu-individu pemilik saham Pikiran Rakyat.

Namun sejumlah karyawan dan wartawan PT Pikiran Rakyat Bandung dipekerjakan di PT KMN dan masih digaji oleh PT Pikiran Rakyat Bandung. Belakangan banyak wartawan cetak PR di-PHK dari print, namun kemudian dikontrak oleh PT KMN. PT KMN dirikan dengan merekrut seorang konsultan yang katanya dari Kompas Grup. Sedangkan PR TV sahamnya didirikan oleh seorang pengusaha bernama Wicaksono. PR TV sama sekali terlepas dari redaksi PR cetak.

Di buku ini, para wartawan print melihat strategi Pikiran Rakyat Online  berbasis clickbait dan meninggalkan prinsip-prinsip jurnalisme, termasuk community engagement. Bahwa direksi mengambil strategi divergen (bukan konvergen), itu adalah hal prerogatif perusahaan. Seperti yang Joko katakan, wartawan muda Pikiran Rakyat tidak menolak platform baru. Bahkan mereka tahu persis bahwa Pikiran Rakyat memang harus muncul dalam berbagai platform. Yang menjadi kegundahan, dalam persepsi reporter muda dalam buku ini adalah bahwa Pikiran Rakyat Online mengejar clickbait: asal rame dan sensasional. Begitu persepsi mereka dalam buku ini.

Banyak keluhan publik terhadap Pikiran Rakyat Online. Redaksi cetak ketiban pulung. Tuduhan terakhir datang dari Gustika Hatta. Cucu Proklamator Bung Hatta ini menuding PR melakukan “jurnalisme kotoran” ketika mengutip cuitan twitter @Gustika. Gustika menilai PR telah salah tafsir tentang postingan dia yang mengritik DPR dalam menyusun Omnibuslaw.

Tentu saja para wartawan ini merasa gusar. Bagaimanapun juga mereka masuk PR melalui proses yang panjang. Kemudian setelah masuk, mereka juga harus ikut berbagai training dan pendidikan. Belasan awak redaksi adalah lulus S-2 dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Banyak juga yang sering mengikuti pelatihan dalam dan luar negeri juga. Bahkan sudah ada beberapa orang yang bergelar doktor.  Jadi kalau ada tudingan tidak profesional, apalagi dijuluki jurnalisme kotoran, tentu pride mereka merasa terganggu.

“Kalau ada komplain terhadap PR Online, publik akan melirik ke Redaksi (print,red). Padahal kami tidak melakukan kesalahan. Tapi publik tak tahu, pokoknya PR adalah koran,” kata Enton Supriyatna. Enton adalah eks Redaktur Pelaksana, yang sudah pensiun September lalu dari Pikiran Rakyat.

“Sedih rasanya bila melihat modal kepercayaan adalah konten yang berpihak pada kebenaran dibengkokkan. Pilu nama besar yang telah dibangun hingga puluhan tahun ini, dihancurkan pelan-pelan dengan memaksa pembaca mempercayai judul sensasional, namun pada akhirnya dipatahkan hatinya serta dikhianti berkali-kali,” tulis Dewiyatini (hal. 38). Dewi adalah wartawati, bergabung dengan PR sejak September 2005.

“Pun saya kurang paham tentang pengmebangan PR online dan model bisnis yang diterapkn. Yang jelas, kami yang di lapangan kerap menerima imbas caci maki dari masyarakat atas kualitas berita online yang jauh dari nilai-nilai PR, Konon, katanya memang ini yang disebut kekinian,” tulis Ririn Nur Febriani (hal 135). Ririn bergabung dengan Pikiran Rakyat sejak 2005.

Joko sendiri dalam buku ini melemparkan pertanyaan: “Ketika bisnis media sudah sempoyongan di sudut ring karena kehilangan pembaca, ‘siger tengah’ dan ‘hadè tata hadè basa’ itu hendak dimaknai dalam praktik jurnalistik seperti apa? Menoleh ke kebiasaan yang diyakini cepat menghasilkan uang, seperti eksploitasi clickbait? Atau tetap tekun merawat jurnalisme bermutu? Saya, secara pribadi, masih meyakini bahwa pendekatan jurnalisme mendalam, atau bahkan investigasi kalau sanggup, untuk menampilkan isu-isu lokal, bisa menjadi kekhasan yang membedakan “PR” dari media lain yang bermunculan seperti jamur di musim hujan…”  (hal 163-164).

Keberatan Joko dan kawan-kawan, adalah juga PR online menasional. PR online menggabungkan portal-portal di Indonesia demi meraih click. Misalnya ada media Blitar, Kalimatan Utara dan lain-lain. Ini yang dianggap terlalu menasional. Direksi sendiri mengatakan bahwa ini adalah era kolaborasi, karena itu PT KMN berkolaborasi dengan media-media di pelosok tanah air. Model bisnisnya: sharing profit. Profit dari mana, sejauh ini masih dari iklan, Google Programatik. Karena itu, PR online mesti memicu traffic. Namun di sinilah kritik wartawan muda: soal clickbait, tidak fokus ke Jawa Barat, dan meninggalkan fungsi perekat masyarakat (Jabar).

Dulu koran Pikiran Rakyat juga pernah menasional. Ada biro Pikiran Rakyat di Jawa Barat dan kota-kota besar Indonesia seperti Semarang, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Cilacap, Surabaya, Denpasar, Medan dan lain-lain. Bahkan PR beredar di Malaysia, Singapura, dan Brunei. Adalah Atang Ruswita (pendiri PR) yang kemudian mengembalikan lagi Pikiran Rakyat ke Jawa Barat pada 1986. Atang melihat bahwa PR akan kehilangan basis Jabar-nya bila menasional, atau meregional ASEAN. Berkaca dari itu, para reporter muda ini tetap berkeinginan agar PR mempertahankan nilai-nilai lokal kejawabaratan. Menjaga lokalitas berarti menjaga kerekatan masyarakat lokal sehingga PR tetap membasis. Media yang punya basis lokal sebetulnya yang punya harapan hidup (survive) di era disrupsi ini.

Joko adalah wartawan yang penuh gairah dalam menulis laporan mendalam dan investigasi. Lulusan UGM ini kerap mendapat penghargaan untuk laporan-laporan investigasinya. Dia peraih hadiah Adinegoro, penghargaan tertinggi karya jurnalistik Indonesia. Dus dia adalah orang pertama Pikiran Rakyat yang menerima hadiah itu. Saya sendiri ikut menyaksikan penyerahan hadiah itu di Hari Pers Nasional, Februari 2015 di Batam.

Peraih Master of Art in Journalism dari Universitas de Ateneo Manila Filipina ini, belakangan mengundurkan diri dari Pikiran Rakyat, dan bergabung ke Ayo Bandung, mengikuti jejak seniornya, Rahim Asyik (mantan Pemred Pikiran Rakyat) ke media yang sama. Joko sendiri tidak secara eksplisit menjelaskan alasan kepindahannya, tapi dia jelas termasuk orang yang tidak suka clickbait. “Saya sudah tidak bisa berkonstribusi lagi di Pikiran Rakyat pak!” kata Joko kepada saya siang itu. Adalah Joko juga yang kemudian memelopori penyusunan buku ini.

Era disrupsi memang bikin tegang manajemen dengan karyawan di semua perusahaan media, termasuk PR. Pada akhirnya banyak wartawan PR  mengundurkan diri atau dirumahkan. Kualitas SDM redaksi sebetulnya luar biasa. Ada belasan lulusan S-2, ada yang sedang menempuh S-3, dan ada beberapa yang sudah doktor. Di luar redaksi juga sama, banyak S-2 dan sudah ada yang doktor. Mimpi mereka adalah membangun Pikiran Rakyat lebih jauh. Untuk itulah mereka berlomba-lomba bersekolah. “Kami, seperti halnya manajemen, bermimpi memiliki Pikiran Rakyat Tower, Rumah Sakit Pikiran Rakyat, Universitas Pikiran Rakyat, Pusat Data dan usaha-usaha lainnya,” kata Deni Yudiawan (hal 123-124).

Deni bergabung dengan Pikiran Rakyat 2002. Karena mimpinya tentang masa depan Pikiran Rakyat itu, dia menempuh S-2  Magister Manajemen Universitas Padjadjaran. Dia juga trainer partner Google. Sewaktu menjadi pemimpin redaksi, saya menugaskan tim, Deni salah satunya, untuk merombak PR Minggu agar kontennya lebih membasis komunitas. Salah satu rubrik yang lahir adalah Back to Boseh. PR tidak ingin orang hanya bersepeda untuk bersepeda. Bersepeda harus ada tujuannya (bycicling with purpose).

Deni juga adalah salah satu inisiator event Amazing Race dan Bike-to-Graphy, yaitu kegiatan bersepeda yang merupakan turunan dari rubrik Back to Boseh. Pesepeda diajak untuk berkeliling Bandung dengan sepeda, tapi mereka diwajibkan memotret objek-objek bersejarah. Data dipasok dari Pusat Data Redaksi. Luar biasa, lebih dari 150 pesepeda mengikuti kegiatan ini. Mereka asli orang Bandung, tapi baru memahami makna dari ikon-ikon Bandung. Padahal nyaris setiap hari mereka melewati daerah itu. Amazing Race berlangsung dua kali, dan berhasil menumbuhkan rasa cinta kepada Bandung lewat bersepeda. Itu community engagement Pikiran Rakyat.

Tapi kegiatan itu tidak lagi berlangsung. Banyak kegiatan community engagement yang tidak lanjut. Pikiran Rakyat juga pernah melangsung acara komunitas Daihatsu. Diikuti ribuan pemilik Daihatsu berbagai jenis (mulai bemo sampai Xenia) dari berbagai kota. Acara yang digagas salah satunya oleh Noe Firman (sekarang Pemred) ini bisa memuaskan pihak Daihatsu. Kegiatan ini tak berlanjut. Beberapa hal yang tak berlanjut antara lain Belia Movie (turunan dari rubrik Belia, rubrik anak muda), Liga Bintang (turunan dari rubrik olahraga) dan lain-lain.

Boleh dikata, community engagement Pikiran Rakyat sedang menuju akhir.

Dalam tulisannya berjudul “Beribu Obsesi, Nihil Realisasi” Deni menilai manajemen PR yang tidak mempunyai rencana strategis ke depan. Manajemen malah membawa berbagai konsultan yang tidak membawa perbaikan apa-apa. “Tidak ada yang berubah baik dari sisi pengembangan unit bisnis maupun sistemnya,” tulis Deni (hal 125). Alumni Fak MIPA (Biologi) Unpad ini juga mempertanyakan, jika memang konsultan ini dianggap mampu, mengapa tidak langsung saja ditunjuk jadi pimpinan di perusahaan. Tentu saja tidak bisa, karena bagaimanapun juga, jabatan direksi dan komisaris adalah jatah pemilik.

Inti dari buku ini adalah curhat karena sebagai orang print, merasa disepelekan, bahkan dianggap racun yang menghambat transformasi digital. Padahal print yang membiayai semua aktivitas PR, termasuk PR online. Selain itu berbicara koran jangan dipandang sebagai produksi koran an sich.  Jurnalisme koran adalah ruh jurnalisme. Di dalamnya ada cek dan ricek, akurat, objektif, mendalam, investigatif, edukatif, jujur (tidak menipu), bijak (wisdom), merekatkan masyarakat (community engagement) dan empati.  Nilai-nilai ini sebetulnya yang diletakkan oleh pendiri Pikiran Rakyat, almarhum Sakti Alamsjah dan almarhum Atang Ruswita.

Bahkan saat Atang Ruswita menjadi pucuk pimpinan PR, community engagement-nya terasa sekali. Atang memelopori pembentukan kelompok-kelompok pembaca di masyarakat. Di perkebunan-perkebunan, PR membentuk kelompok pembaca Pikiran Rakyat. Bahkan Menteri Penerangan waktu itu, Harmoko,  tertarik meniru gerakan Atang ini. Maka Departemen Penerangan pun membentuk Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca dan Pamirsa). Harmoko adalah sahabat Atang. Waktu Harmoko Ketua PWI, Atang selalu jadi ketua Bidang Organisasi.

Melalui Kelompencapir inilah pemerintah Soeharto melakukan kampanye berbagai hal, seperti Keluarga Berencana, sosialisasi Program Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), program pertanian dan lain-lain. Pikiran Rakyat waktu itu superlikuid (begitu istilah wartawan senior PR Mirza Zulhadi, sekarang Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia pusat), namun uang berlimpah ini kembali ke masyarakat.

Presiden Soeharto temu wicara dengan Klompencapir (foto: Perpusnas).

Di bawah Atang, Pikiran Rakyat bukan hanya sebuah perusahaan pencari untung. Dia adalah juga sahabat masyarakat. Salah satu jasa almarhum adalah ikut merevitalisasi Masjid Agung alun-alun Bandung, sehingga menjadi Masjid Raya Jabar seperti sekarang ini. Pengaruh PR pun dirasakan bukan cuma oleh wartawan, bahkan oleh karyawan non redaksi. Banyak karyawan di lingkungannya menjadi tokoh masyarakat. Banyak yang menjadi Ketua RT dan RW. Banyak yang menduduki jabatan-jabatan sosial. Itu bukti kepercayaan (trust) yang dibangun puluhan tahun oleh Pikiran Rakyat.

Bahkan satu hal yang membanggakan sebagai wartawan PR adalah membantu masyarakat yang kesusahan. “Ada lagi hal yang membuat saya merasakan bahwa ikatan PR dengan pembaca. Saya seringkali menerima titipan sumbangan dana maupun barang dari pembaca kepada masyarakat yang kurang beruntung, mulai dari uang, makanan, buku, hingga kursi roda. Donasi yang dititipkan paling jauh dan paling besar yang pernah saya terima dari pembaca PR di Amerika senilai Rp 10 juta. Saat menerima saya menangis, pun ketika menyerahkannya kepada orang yang perlu dibantu. Empati tak mengenal batas wilayah,” tulis Ririn (Hal 133).

Peran PR sebagai media penyalur bantuan sudah berlangsung jauh sebelum zaman media sosial. PR memediasi bantuan pembaca untuk bencana alam, pendirian sekolah, puskesmas, pesantren, dan lain-lain. Sekarang Yayasan Pikiran Rakyat yang melakukan ini. Namun manajemen tidak serius mendorong yayasan untuk melaksanakan fungsi sosial PR. Karena itu pula tokoh Sunda Tjetje Hidajat Padmadinata menilai, PR sudah bukan hanya koran. “Pikiran Rakyat mah geus lain saukur koran. Tapi getihna Jawa Barat!” Pikiran Rakyat, bukan sekadar koran, tapi sudah jadi darahnya Jawa Barat. Ini berkat jasa para pendiri. Pikiran Rakyat memang bukan sekadar koran, dia adalah media yang sebenar-bernarnya media. Dia memediasi gotong royong masyarakat sipil (civil society) pada tingkat akar rumput!

Dalam bahasa sekarang Atang Ruswita adalah pelopor sociopreneur. Istilah sociopreneur belum ada waktu itu, tapi Atang sudah melakukannya. Dari tulisan-tulisan wartawan muda PR ini tercermin keinginan untuk mempertahankan nilai-nilai luhur para pendiri PR itu. Pikiran Rakyat boleh dan harus muncul dalam berbagai platform. Tapi nilai-nilai tidak boleh berubah demi clickbait. Dari tulisan mereka tampak bahwa para wartawan muda ini menolak clickbait, bukan menolak digitalisasi. Apalagi dianggap racun terhadap transformasi digital.

“…saya ingin bersama orang-orang yang masih semangat untuk kembali ke akar, menggali dan merawat nilai-nilai “PR” yang disematkan para terdahulu yang mesti disampaikan kepada penerusnya. Kita memang harus beradaptasi dengan era baru yang datang setiap waktu, namun pastikan nilai-nilai “PR” tetap menjadi landasan karena itu yang menjadi ciri khas “PR”,” Tulis Ririn lagi (Hal 135)

Mereka juga tidak menolak pengurangan tiras akibat berkurangnya pendapatan. Mereka ingin agar koran PR dipertahankan pada tingkat minimum namun esensial untuk memelihara pengaruhnya di Jawa Barat. Koran harus dipertahankan sebagai pembawa bendera (flagship) jurnalisme berkualitas.

Penutup

Saya kira bukan cuma manajemen Pikiran Rakyat yang berbeda memahami jurnalisme koran (print journalism). Hampir semua media dan pengamat memandang koran dari sudut industri sebagai sunset media. Mereka belajar banyak tentang konvergensi, tapi pada praktiknya melakukan divergensi. Koran hanya dipandang dari segi beratnya ongkos produksi. Orang-orang cetak dituding tidak adaptif terhadap digitalisasi. Sebagian kesimpulan ini bisa saja benar. Dalam forum-forum internasional seperti IFRA dan World Chief Editors Forum memang kerap dibahas tentang transformasi kultural dari pers cetak ke digital. Di antaranya ada benturan kultural antara orang-orang print dengan orang-orang online.

Tapi, forum diskusi pers dunia WAN (World Association of Newspaper) IFRA, selalu berbicara tentang konvergensi antar platform dan membangun model bisnis yang konvergen juga. WAN IFRA tidak merekomendasikan “pembunuhan” koran demi tumbuhnya media online!

Dalam kasus Pikiran Rakyat, saya menyaksikan bahwa para reporter muda ini justru memahami dunia digital, bahkan lebih filosofis. Internet menyebabkan konvergensi, bukan sekadar konvergensi alat, tapi juga konvergensi filosofis. Mereka paham, teknologi adalah global, tapi konten tetap lokal. Mereka paham, nilai komersial bisa saja konvergen dengan nilai idealis. Dari mereka lahir ide-ide model bisnis baru. Tapi tak pernah tereksekusi.

Media sebesar Kompas juga misalnya terkena gonjang-ganjing disrupsi. Mereka membuat Kompas.com di bawah bendera perusahaan baru (PT KCM). Kasusnya sama, orang-orang print merasa dirugikan dengan strategi clickbait Kompas.com. Marwah orang-orang print merasa dirugikan. Belakangan, Kompas mengoreksi kebijakan divergen ini. Koran Kompas kemudian membuat Kompas.id yang konten dan model bisnisnya dikendalikan Koran Kompas.

Apa yang dilakukan pendiri PR dengan filosofi Dari Rakyat-Oleh Rakyat-Untuk Rakyat, Nyaah ka Jawa Barat, Siger Tèngah, Hadè Basa Hade Tata, Herang Caina Beunang Laukna, dan nilai lokalitas kejawabaratan justru merupakan benteng yang menguatkan eksistensi Pikiran Rakyat. Media-media daerah sebetulnya punya community engagement yang jauh lebih kuat dari pada media-media Jakarta (nasional). Media lokal punya 1000 alasan untuk survive di era disrupsi ini.

Pikiran Rakyat Cetak kini di bawah pimpinan para putra-putra pendiri. Mereka adalah jajaran direksi: Perdana Alamsyah (putra Sakti Alamsyah) sebagai Direktur Utama, Januar P. Ruswita (putra Atang Ruswita) sebagai Direktur Bisnis, Kartono Sarkim (putra Sarkim Wiranta) sebagai Direktur Operasi. Sion Surantha (putra Yosef Brahmana) sebagai Komisaris Utama, Erick Parikesit (putra Suprijadi) sebagai komisaris dan Haris Darmawan (putra Gunadi Wibisono) sebagai Komisaris. Di pundak merekalah nasib Pikiran Rakyat kini ditentukan. Tentunya nama putra-putri ini akan tercatat dalam sejarah digital: berhasilkah mereka melanjutkan PR, atau tidak?

Saya percaya mereka bisa. Kuncinya komunikasi dengan karyawan dan mendiskusikan lagi nilai-nilai Pikiran Rakyat yang asli, serta percaya kepada kemampuan internal.

Tentunya jajaran direksi dan komisaris sudah membaca buku ini, Saya berharap manajemen bisa berkomunikasi lagi lebih intens dengan karyawan untuk bersama-sama memikirkan nasib Pikiran Rakyat yang sudah telanjur melegenda di Jawa Barat, menyamakan persepsi, tidak memandang orang print sebagai penghambat digitalisasi, karena transformasi digital itu harus dipahami dalam frekuensi yang sama. Kalau komunikasi ini terbangun, nanti buku kedua akan berisi cerita indah. Ya…adik-adik ini sedang menyiapkan buku kedua. Begitu yang saya dengar…***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Budhiana Kartawijaya

Sekretaris Perusahaan Pikiran Rakyat. Meniti karir sebagai wartawan di Pikiran Rakyat.

Leave a Reply

%d bloggers like this: