Jurnalisme Atang Ruswita: 2+2=5!

(English)

ALKISAH seorang raja maha kuasa mempunyai seorang anak. Sang Raja amat sangat sayang kepada sang pangeran. Untuk mempersiapkan masa depannya, Sang Raja mencari guru yang bisa mendidik calon ahli waris takhta itu. Terpilihlah seorang guru yang akan mendampingi pendidikan sang pangeran.

Salah satu mata pelajaran yang harus diajarkan adalah berhitung. Maka terjadilah dialog:

“2+2 berapa?” tanya guru

“Lima!” jawab pangeran.

“Wah salaahh….mestinya empat!” Timpal si guru dengan nada agak tingi.

Merasa disalahkan, sang anak pun menangis.

Mendengar anak kecintaan menangis, Sang Raja murka bukan kepalang.

Dari balik tirai dia langsung meghaburkan kemurkaan kepada si guru. Raja pun memerintahkan hukuman pancung kepada si guru bernasib sial ini.

Beberapa waktu kemudian Raja mencari lagi guru. Terpilih seorang guru dari pinggiran negeri. Apa boleh buat, sang guru desa ini tak bisa menolak. Si guru baru harus hati-hati mengajar.

Tibalah pelajaran Berhitung:

“2+2 berapaaa?”

“Limaaaa…..” jawab pangeran.

“Betuuuulllll…Tapiiiii…. kelebihan satu!” Jawab si guru sambill tepuk tangan.

Pangeran pun tertawa gembira, karena tidak merasa disalahkan tapi dia tahu bahwa 2+2 seharusnya sama dengan empat.

Sang guru pun lolos dari hukuman mati.

Cerita ini saya dapatkan dari pak Atang Ruswita (1933-2003), pendiri Pikiran Rakyat. Beliau menulis ini di halaman 1 Pikiran Rakyat pada tahun 1990-an.

Cerita ini ringan, tapi bobotnya besar. Kolom-kolom kecil Kang Atang ini dibukukan dan berjudul “Permen dan Receh Atang Ruswita”

Judul buku ini cerminan kerendahan hati seorang Atang Ruswita. Dia tak mau memberi judul buku yang hebat atau propagandis. Judulnya ringan. Permen adalah makanan kecil tapi manis. Receh itu bukan uang besar. Di Barat ada idiom “just my two cents”. Kalimat ini meluncur dari seorang yang memberikan pendapat, tapi dengan rendah hati dan tidak memaksakan pendapat itu untuk diterima. Two cents atau dua sen itu receh.

Kang Atang (begitu dia senang disebut) bercerita tentang bagaimana seharusnya jurnalisme Pikiran Rakyat. Kang Atang menerapkan journalisme yang sesuai dengan filosofi Sunda : Siger Tengah (berdiri di tengah, menjembatani), caina herang laukna beunang (air tetap jernih, ikannya dapat), silih asih, asah,  asuh dan silih wangikeun. Silih asih, asah, asuh dan saling mengharumkan), dan nyintreuk teu piambekeun (nyentil kuping yang tak bikin marah)

Kang Atang menuliskan cerita ini, di tengah adanya suara-suara jurnalis muda di dalam maupun luar Pikiran Rakyat yang ingin agar pers bersuara keras terhadap Presiden Soeharto. Angkatan saya termasuk yang naik adrenalinnya.

Tapi begitulah Kang Atang…

Dia suka muncul tiba-tiba di ruang redaksi, kadang siang, kadang tengah malam. Ciri khasnya, ngobrol sambil senyum, kadang tertawa lantang, sambil mengapit rokok kretek. Kalau Kang Atang datang, semua wartawan mengerubunginya, nyaris tak ada jarak, tapi wibawanya tetap tampak.

Kang Atang bilang, Pikiran Rakyat itu hidup di tengah masyarakat Sunda. Ruh Sunda siger tengah, nyintreuk teu piambekeun, caina herang laukna beunang adalah prinsip dan etika jurnalisme Pikiran Rakyat. Inilah yang membuat Pikiran Rakyat dan masyarakat saling mengasihin, mengasuh, mengasah dan saling mengharumkan. Banyak warga Jabar yang namanya menjadi harum, dan masyarakat Jawa Barat pun mengagumi dan mengharumkan Pikiran Rakyat.

Bahasa sekarang : engagement Pikiran Rakyat dengan masyarakat itu kuat sekali.

Kang Atang benar….

Banyak media baru muncul dengan gaya kritik sarkasme, judul bombastisk, dan berlaku menuding bak jaksa. Media seperti itu, kata Mang Atang, pertanda tak berpengaruh, hanya bikin gaduh demi oplah. Banyak ternyata, media bombastis muncul dan tak lama kemudian mati. “Wartawan mah jangan seperti jaksa yang tengah menuding. Tetap harus menjunjung praduga tak bersalah!” ujar kang Atang…

 

 

 

 

 

Budhiana Kartawijaya

Sekretaris Perusahaan Pikiran Rakyat. Meniti karir sebagai wartawan di Pikiran Rakyat.

Leave a Reply

%d bloggers like this: